Dewan Pengurus Wilayah Persatuan Perawat Nasional Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur (DPW PPNI NTT) menggelar acara sosialisasi peluang kerja bagi perawat di Jepang pada Sabtu (08/06/2024) yang berlangsung secara daring melalui media Zoom. Kegiatan ini terlaksana berkat kerja sama dengan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Lembaga Pelatihan Bahasa Jepang Bali atau biasa disebut LPJ Bali.

Ketua DPW PPNI NTT, Dr. Aemilianus Mau, S.Kep.,Ns, M.Kep, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk perhatian organisasi perawat PPNI terhadap anggota, khususnya bagi Perawat NTT yang belum mendapatkan kerja; atau kalau sudah kerja pun masih berstatus sukarela dan belum mendapatkan upah yang layak.

Karena itu, Aemilianus Mau berterima kasih kepada pihak LPB Bali, salah satu lembaga yang memfasilitasi perawat untuk bekerja di Jepang, yang telah bersedia untuk membagikan informasi kepada seluruh perawat di NTT. Menurutnya, LPJ Bali ini merupakan lembaga terpercaya, sehingga perawat di NTT tidak perlu ragu dengan kualitas dan kemanannya.

“Saya kebetulan sudah mengunjungi langsung ke LPJ Bali,” kata Aemilianus Mau yang mengaku ada tugas ke Bali belum lama ini dan menyempatkan diri berkunjung ke tempat pendidikan LPJ Bali. “Tempatnya sangat bagus dan nyaman buat belajar.”

Karena itu, Aemilianus Mau mendorong pengurus PPNI se-NTT maupun perawat yang sempat hadir dalam sosialisasi tersebut untuk meneruskan informasi peluang kerja perawat ke Jepang itu kepada anggota lain, khususnya bagi mereka yang belum mendapatkan pekerjaan yang layak.

Ia menambahkan, DPW PPNI NTT terus memberi perhatian pada kesejahteraan anggota karena berdasarkan hasil survei internal, masih banyak perawat di NTT yang sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena itu, Aemilinus Mau berkomitmen untuk terus melakukan kerja sama dengan berbagai pihak agar peluang kerja bagi Perawat NTT makin terbuka.

“Ayo, adek-adek perawat yang belum dapat kerja, manfaatkan peluang kerja di Jepang bersama LPJ Bali,” pesan Aemilinus Mau sebelum membuka acara sosialisasi tersebut secara resmi.

Sekilas Tentang LPJ Bali

Pimpinan LPJ Bali, Drs. Y. B. I Ketut Herry Respatia, ikut hadir dalam kegiatan sosialisasi bersama DPW PPNI NTT tersebut. Pria yang akrab disapa Pak Herry tersebut didampingi oleh salah satu stafnya yang biasa disapa Pak Indra, serta dua alumni LPJ Bali (Umbu dan Jeni) yang kini bekerja di Jepang; dua-duanya merupakan tenaga kesehatan yang berasal dari NTT.

Pak Herry bercerita kalau LPJ Bali ia dirikan sejak 1993, dan kini sudah berusia 31 tahun. Sebelumnya Pak Herry sendiri merupakan salah satu TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang bekerja di Jepang dan ia merasa suasana kerja dan penghasilan yang didapatkan selama kerja di sana jauh lebih baik. Karena itu, ia kemudian mendirikan LPJ Bali dengan maksud membuka peluang yang lebih besar bagi orang Indonesia untuk bekerja di Jepang.

LPJ Bali menyiapkan calon tenaga kerja untuk menguasai bahasa dan budaya kerja di Jepang. Mereka menyiapkan calon tenaga kerja dari berbagai macam profesi. Sejak tahun 2018, lembaga itu sudah mulai mengirim tenaga kerja caregiver, yaitu perawat yang akan merawat para lansia di Jepang.

Menurut Pak Herry, hingga saat ini LPJ Bali telah mengirimkan tenaga kesehatan (caregiver) ke Jepang kurang lebih 400 anak dan 100 orang dari mereka merupakan orang NTT yang berasal dari Sumba, Timor, Flores, dan daerah yang lainnya.

“Kami menerima semua lulusan dari bidang kesehatan, mulai dari tingkat SMK hingga S1. Kami akan fasilitasi semuanya di LPJ Bali mulai dari persiapan awal hingga urusan penempatan kerja di Jepang. Kami jamin pasti berangkat ke Jepang,” kata Pak Herry.

Keunggulan LPJ Bali

Setelah perkenalan awal dari Pak Herry, selanjutnya giliran Pak Indra yang menjelaskan lebih detail mengenai program dan proses yang disedikan oleh LPJ Bali. Secara legalitas, Pak Indra menerangkan bahwa LPJ Bali tidak hanya memiliki izin menjalankan kegiatan pelatihan kerja, tapi juga dilengkapi izin untuk mengirim dan menempatkan tenaga kerja di Jepang. Karena itu, ia menjamin layanan dari LPJ Bali aman karena mengikuti aturan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Secara umum, LPJ Bali menyediakan 3 layanan: pendidikan Bahasa Jepang, pelatihan kerja, dan pengiriman tenaga kerja ke Jepang. Perawat atau tenaga kesehatan lainnya yang ingin menjadi caregiver yang bekerja di Jepang lewat LPJ Bali akan melewati 6 tahap ini: pendaftaran; pelatihan Bahasa Jepang 6-9 bulan; tes Bahasa Jepang hingga lulus pada level N3 dan N4; wawancara dengan perusahaan di Jepang; persiapan dokumen keberangkatan; hingga akhirnya bekerja di Jepang.

Jika peserta berasal dari NTT, maka harus menyiapkan biaya keberangkatan awal hingga tiba di Bali. Saat pendaftaran awal di LPJ Bali, peserta membayar biaya registrasi sebesar Rp. 1.500.000. Selanjutnya, peserta akan menjalani pelatihan Bahasa Jepang dan tinggal di asrama LPJ Bali secara gratis selama 3 bulan. Peserta hanya membutuhkan biaya lagi ketika mengikuti tes Bahasa Jepang, serta saat penyiapan dokumen dan pemeriksaan kesehatan. Secara umum, total biaya yang dibutuhkan selama masa persiapan di LPJ Bali sebesar Rp. 11.500.000.

Biaya sejumlah itu masih tergolong murah dibanding dengan LPK yang lain dan LPJ Bali pun telah menyediakan fasilitas kredit bagi para peserta. LPJ Bali telah bekerja sama dengan BNI, sehingga peserta yang sudah lulus tes Bahasa Jepang dan mendapat nilai N3 dan N4 serta lolos seleksi wawancara dengan perusahaan Jepang, maka peserta tersebut dapat mengajukan pinjaman ke BNI sampai 30 juta rupiah.

Menurut Pak Indra, utang di BNI itu dapat dicicil oleh peserta setelah 3 bulan bekerja di Jepang. Kebijakan itu diambil karena setiap pekerja yang diterima dan mulai kerja di Jepang, pada bulan pertama masih dia diberi pelatihan tambahan lagi agar mampu beradaptasi dengan budaya dan kondisi kerja di sana. Selama bulan pertama ini, peserta belum mendapatkan gaji penuh, tapi tetap diberikan uang saku yang kalau dirupiahkan bisa mencapai 6 juta rupiah.

Selanjutnya pada bulan kedua gaji terus meningkat dan pada bulan 3 sudah menerima gaji penuh yang totalnya mencapai belasan juta. Pada bulan ketiga inilah peserta yang sebelumnya melakukan kredit di BNI mulai mencicil utangnya tersebut. Berdasarkan pengalaman peserta sebelumnya, jumlah gaji yang diterima di Jepang sangat cukup untuk menutup kembali biaya yang dipakai selama masa persiapan.

Pada kesempatan itu, Pak Indra juga menjelaskan kondisi LPJ Bali yang dinilai nyaman sebagai tempat belajar. LPJ Bali dilengkapi dengan sarana ruang kelas, asrama, perpustakaan, ruang makan, ruang cuci pakaian, dan tempat parkir. Pak Indra menambahkan, LPJ Bali berkomitmen untuk menyiapak setiap peserta hingga siap berangkat kerja ke Jepang. Dan bila sudah bekerja di Jepang, maka peserta tersebut akan mendapatkan fasilitas: gaji antara 13-16 juta per bulan; uang bonus; tempat tinggal disediakan di apartemen; asuransi; mendapatkan sertifikat kompetensi; dan memiliki tabungan hari tua.

Kesaksian Alumni LPK Bali

Salah satu alumnus LPK Bali, Umbu, ikut berbagi cerita dalam kegiatan sosialisasi peluang kerja perawat di Jepang tersebut. Umbu merupakan putra asli Sumba Timur, NTT. Ia dulu kuliah di Poltekkes Kemenke Kupang Prodi D3 Keperawatan Sumba Timur dan lulus tahun 2018.

Umbu mengaku tidak pernah membayangkan sebelumnya bisa bekerja di Jepang. Setelah lulus kuliah, ia mendengar ada peluang kerja di Jepang melalui LPJ Bali. Karena itu, ia kemudian mendaftar dan mengikuti proses belajar di sana.

Menurut Umbu, tidak ada jalan yang mudah; semuanya butuh niat dan kerja keras. Ia mengaku sangat susah belajar Bahasa Jepang, karena itu harus bersabar dan tekun berlatih. “Paling susah itu belajar huruf Kanji,” kenang Umbu sambil tersebut.

Meski demikian, berkat niat belajar dan tekad yang kuat untuk bekerja di Jepang, semuanya bisa dilewati dengan baik. Menurut Umbu, proses belajar di LPJ Bali sangat baik karena langsung dimbimbing oleh guru yang sebelumnya pernah tinggal di Jepang dalam waktu yang cukup lama.

“Kami tidak sekadar belajar Bahasa, tapi juga bagaimana cara hidup di Jepang; cara hidup bersih dan sehat di Jepang; dan sebagainya,” imbuh Umbu.

Umbu yang baru-baru ini pulang libur ke Indonesia mengaku makin kagum dengan fasilitas yang dimiliki LPJ Bali, sebab kondisi asrama saat ini makin besar dan makin bagus. Pada kesempatan itu ia berterima kasih kepada pimpinan LPJ Bali, sebab berkat lembaga tersebut, ia menjadi perawat pertama dari Sumba Timur yang bekerja di Jepang.

Pada kesempatan itu, Umbu juga bercerita seputar keunggulan bekerja di Jepang, di antaranya gaji yang lumayan tinggi; ada bonus tiap 6 bulan; ada uang tambahan jika lembur kerja; dan berbagai fasilitas lainnya. Dari pendapatan selama bekerja di sana, Umbu mengaku sudah bisa membantu orang tua untuk membangun rumah, membantu biaya pendidikan anggota keluarga lain, bahkan bisa berinvestasi membeli beberapa ekor kuda di Sumba Timur.

“Buat rekan perawat yang mau kerja di Jepang, silakan bergabung dengan LPJ Bali,” ajak Umbu.

Selain Umbu, ada juga alumnus lain yang berbagi cerita saat itu. Namanya Jeni, lulusan Prodi Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang. Ia masuk ke LPJ Bali tahun 2019 dan merasa nyama selama mengikuti proses belajar di sana. Jeni mengaku terkesan dengan para guru yang ada di LPJ Bali karena benar-benar merangkul setiap peserta sehingga semua termotivasi untuk belajar dan bisa berhasil hingga bekerja di Jepang.

Jeni juga mengaku agak sulit belajar Bahasa Jepang pada awalnya. Tapi, ia meyakini bahwa tidak ada hal yang mustahil bisa mau berusaha. Jeni pun belajar dengan tekun dan membuktikan bisa bekerja di Jepang dengan penghasilan belasan juta per bulan. Tidak hanya itu, baru-baru ini Jeni juga telah berhasil lulus “ujian negara” sehingga ia bisa bekerja di Jepang selama yang ia mau dan bisa membawa serta keluarga terdekatnya ke sana.

Menurut Jeni, selama bekerja di Jepang ia tidak sekadar urus pekerjaan saja. Tapi ia juga diberi kesempatan untuk menambah ilmu dan pengetahuan yang lain. Berkat peluang seperti itu, ia kemudian bisa mengikuti “ujian negara” dan pada akhirnya dinyatakan lulus. Menurutnya itu salah satu prestasi yang sangat ia banggakan sebab ujian tersebut kalau diikuti oleh warga Jepang asli masih banyak yang gagal.

Kepada rekan perawat NTT, Jeni mengajak untuk ikut bekerja di Jepang melalui LPJ Bali. Ia meyakini perawat dari NTT juga bisa bersaing dengan perawat dari mana pun, kuncinya mau belajar dan pantang menyerah. “Ayo, semangat, pasti bisa! Memang susah, tapi pasti bisa!” ajak Jeni bersemangat.

Mau Ikut Jejak Umbu dan Jeni?

Setelah bercerita kiprah LPJ Bali, kegiatan sosialisasi itu dilanjutkan dengan diskusi. Peserta sangat antusias bertanya, sehingga acara yang dimulai pukul 16.00 WITA itu baru berakhir pada pukul 18.00 WITA.

Di akhir acara, Aemilianus Mau mengaku senang dan berterima kasih kepada LPJ Bali, khususnya Umbu dan Jeni, yang telah berbagi cerita inspiratif. Menurut  Ketua DPW PPNI NTT itu, peluang kerja perawat di Jepang itu sangat menjanjikan bagi perawat. Karena itu, ia mengajak pengurus PPNI dan perawat yang hadir bisa membagikan informasi tersebut kepada rekan lain yang membutuhkan pekerjaan yang layak.

Aemilinus Mau juga meminta khusus kepada LPJ Bali yang sebelumnya menginformasikan bahwa bulan depan akan dibuka perekrutan baru sebanyak 100 orang, kalau bisa diprioritaskan bagi perawat di NTT. Ia berharap LPJ Bali bisa melakukan perekrutan melalui DPW PPNI NTT, sehingga peluang kerja itu bisa diikuti oleh perawat dari NTT.

“Kalau bisa jatah 100 orang itu semuanya dari NTT,” kata Aemilianus Mau sambil tersenyum.

Kepada para peserta, Aemilianus Mau berharap bisa mengikuti jejak Umbu dan Jeni. Menurutnya itu merupakan kesempatan yang baik bagi perawat untuk mengubah nasib, sebab kalau berhasil, maka perawat tersebut bisa bermanfaat bagi keluarganya dan bahkan memberi kontribusi bagi kemajuan negara Indonesia.

“Ayo, perawat NTT, manfaatkan peluang ini dengan maksimal,” tambah Aemilianus Mau, lalu menutup kegiatan sosialisasi tersebut secara resmi.

Penulis: Saverinus Suhardin (Infokom DPW PPNI NTT)

Artikulli paraprakPenanganan Stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur: Strategi dan Langkah yang Efektif
Artikulli tjetërPotensi dan Strategi Penanganan Kebencanaan di NTT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini