Home Uncategorized Praktik Baik Perawat Komunitas Meningkatkan Cakupan Imunisasi di Puskesmas Kopeta, Kab. Sikka

Praktik Baik Perawat Komunitas Meningkatkan Cakupan Imunisasi di Puskesmas Kopeta, Kab. Sikka

0
321

Oleh: Anastasia Wihelmin Stephanie Conterius, S.Kep., Ns

(Perawat Puskesmas Kopeta, Kabupaten Sikka, NTT)

 

Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama, melakukan berbagai program kerja untuk meningkatkan kesehatan masyarat yang berfokus pada kegiatan preventif dan promotif—lebih besar dibandingkan dengan kuratif dan rehabilitatif.

Salah satu program kerja puskesmas sebagai tindakan preventif adalah kegiatan imunisasi. Imunisasi merupakan tindakan memberikan kekebalan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, seperti TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio, Hepatitis tipe B, Influenza tipe B dan Campak Rubella.

Jenis imunisasi tersebut juga dikenal dengan imunisasi rutin dengan pengaturan waktu yang dianjurkan. Selain itu, anak juga boleh mendapatkan jenis imunisasi tertentu dan imunisasi lanjutan atau booster seperti DPT lanjutan serta Campak Rubella atau dikenal dengan Measles Rubella (MR).

Pemerintah juga sudah menyiapkan tambahan jenis vaksin. Dulunya hanya 11, dan saat ini menjadi 14 dengan tambahan vaksin Rotavirus untuk diare, PCV untuk anti pneumonia. Sasaran kegiatan imunisasi ini adalah bayi-balita, sehingga pelaksanaannya dapat dilakukan pada kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU) setiap bulannya.

Pelaksana kegiatan ini umumnya tenaga perawat. Perawat memiliki dasar pengetahuan anatomi dan fisiologis, konsep penyakit serta keterampilan tindakan injeksi—baik secara intra muskuler, intra vena, sub cutan maupun intra kutan—sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 12 tahun 2017tentang Penyelenggaraan Imunisasi.

Namun, sejak ditetapkan penyakit COVID-19 sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) tanggal 11 Maret 2020, dampaknya terasa sampai ke Indonesia. Akibatnya, pemerintah mengambil kebijakan untuk menghentikan sementara kegiatan mengumpulkan massa.

Kebijakan itu kemudian mengalami perubahan seturut perkembangan kondisi penyakit COVID-19 di Indonesia. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan adalah pedoman pelaksanaan imunisasi bayi-balita di masa COVID-19 oleh Kemenkes RI. Termasuk di NTT juga mengeluarkan kebijakan tentang pelaksanaan imunisasi bayi-balita disesuaikan dengan kondisi lapangan dan pengaturan agar tidak terjadi pengumpulan massa.

Penyelenggaraan imunisasi di masa ini pun menunjukkan penurunan pencapaian karena masih banyak orang tua bayi-balita merasa takut untuk berkumpul, apalagi membawa anaknya keluar rumah. Selain itu, orangtua kurang mendapatkan informasi tentang jadwal pelaksanaan imunisasi sehingga tidak datang ke pos imunisasi yang ditentukan.

Memang ada juga orangtua yang tetap ingin anaknya mendapatkan imunisasi. Mereka cemas anaknya akan menderita sakit karena sudah melewati waktu yang seharusnya untuk dapatkan imunisasi. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi perawat, seperti yang terjadi di Puskesmas Kopeta, Kabupaten Sikka.

Puskesmas Kopeta berusaha meningkatkan partisipasi bayi balita di pos imunisasi dengan membangun kemitraan dengan pihak kelurahan. Kerja sama tersebut menjadi kesempatan yang baik untuk sosialisasi kebijakan imunisasi selama pandemi COVID-19. Setelah melakukan komunikasi lisan dengan pihak kelurahan, selanjutnya Pukesemas Kopeta menyampaikan melalui surat resmi dengan melampirkan jadwal pelaksanaan.

Pelaksanaan imunisasi tidak lagi melalui posyandu. tetapi dibuat pos imunisasi khusus yang bertempat di aula kantor kelurahan. Kami dari Puksesmas Kopeta juga membagi jumlah kedatangan bayi balita dengan menetapkan protokol kesehatan seperti: mencuci tangan, menjaga jarak dan menggunakan masker dan hanya boleh datang pada waktu yang ditentukan sesuai dengan wilayahnya. Tenaga perawat yang bertugas dilengkapi dengan alat perlindungan diri sesuai pedoman penggunaan APD di masa pandemi COVID-19.

Rendahnya capaian imunisasi pada bayi-balita secara nasional inilah yang menjadi dasar pemerintah membuat kebijakan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) pada bulan Mei 2022. Seperti yang lilansir harian Victory News (25 Mei 2022), sasaran BIAN MR di Sikka sebanyak 66.924 anak, mulai dari usia 9 bulan hingga 6 tahun. Kegiatannya dicanangkan di TKK Pembina oleh Perawat Puskesmas Kopeta, Kabupaten Sikka.

Pencanangan BIAN di TKK Pembina oleh Perawat Puskesmas Kopeta, Kabupaten Sikka.

Dan pada bulan yang sama ini, perawat sedunia juga sedang merayakan ulang tahun atau Hari Perawat Sedunia (International Nurses Day atau IND) yang dirayakan pada tanggal 12 Mei. IND merupakan momen untuk memperingati perjuangan Florence Nightingale sebagai pelopor keperawatan. Florence Nightingale pernah mengatakan, butuh waktu lebih dari 150 tahun untuk mendapatkan pengakuan seluruh dunia bagi profesi perawat, dan prediksinya itu terbukti di masa pandemi Covid-19 ini.

Sesuai dengan tema IND tahun 2022 ini, masyarakat akhirnya tahu betapa mereka membutuhkan tenaga perawat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Tema IND kali ini adalah: “A Voice to Lead-Invest in Nursing and respect rights to secure global health”. Teman ini ingin menyuarakan bagaimana perawat memimpin, melindungi dan mendukung profesi keperawatan dalam memperkuat sistem kesehatan di seluruh dunia.

Dapat dilihat jelas selama COVID-19, hal ini juga membuka mata dunia bahwa, kurangnya investasi untuk kesehatan di seluruh dunia sehingga ketika ancaman itu datang, seluruh dunia baru mulai bersatu dalam penanggulangannya. Perawat dalam memimpin mesti merubah pola berpikir. Perawat tidak hanya menunggu ketika menjadi pejabat negara atau kepala di instansi kesehatan, tetapi sebagai individu, perawat harusnya sudah dapat menjadi pemimpin terhadap klien yang menjadi sasaran pelayanan dengan mengembangkan diri, banyak membaca dan tanggap dengan perkembangan teknologi informasi.

Melihat fenomena rendahnya capaian imunisasi akibat Covid-19, bagaimana peran perawat komunitas baik sebagai koordinator, edukator, pemberi asuhan keperawatan, advokat klien dan kolaborator?

Keberadaan perawat mulai dari desa hingga di kot,a harusnya mampu menjadi koordinator dengan memimpin kegiatan imunisasi. Perawat membuat jadwal kegiatan, mengatur sasaran imunisasi, mendata bayi balita yang belum meperoleh imunisasi kemudian menjalankan tugas sebagai edukator dengan memberikan informasi kepada orangtua bayi-balita tentang apa itu imunisasi, manfaat dan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI), kemudian membuat pelaporannya.

Khusus untuk pelaporannya, saat ini semuanya masih manual. Itu artinya perawat harus menyuntik sekaligus mencatat register dan membuat laporan, sehingga terkadang laporan ke dinas kesehatan menjadi terlambat. Tetapi jika hal ini berbasis teknologi komunikasi, tentunya akan sangat membantu tugas perawat komunita, meski tantanganya perawat harus beradaptasi dan tahu mengoperasikan media komunikasi berbasis teknologi.

Fungsi lainnya, perawat memberikan health education, sehingga orangtua mengetahui penanganan awal ketika terjadi KIPI. Perawat harus dapat meyakinkan orangtua tentang keamanan vaksin, manfaat dan jadwal imunisasi anak.

Indikator kelengkapan imunisasi anak dipantau ketika anak mencapai usia 9 bulan ditambah dengan booster hingga usia 2 tahun yakni MR. Ketika masih ada orangtua yang belum memahami perlunya booster, maka perawat harus menjadi advokasi bagi mereka, apalagi bagi orangtua yang tidak membawa anaknya selama kegiatan imunisasi. Perawat perlu melakukan kunjungan rumah untuk menerapkan asuhan keperawatan keluarga, gunakan teknik komunikasi efektif sehingga perawat mengetahui alasan orangtua.

Puskesmas Kopeta memiliki program Gerakan Anak Wajib Imunisasi (GAWI). Program ini memberikan pengetahuan kepada orangtua, baik saat posyandu maupun kunjungan rumah. Berdasarkan pengalaman, orangtua pada umunya mengatakan tidak bisa ikut imunisasi karena kesibukan bekerja atau karena anak sedang demam.

Jika hal-hal seperti ini terjadi, bagaimana perawat harusnya menerapkan caring yang menjadi roh utama profesinya? Apakah perawat membiarkannya, ataukah berupaya mencari cara bagaimana agar anak tetap mendapatkan imunisasi? Apalagi saat ini dunia berangsur-angsur sembuh dari COVID-19, harusnya perawat komunitas lebih giat mendapatkan sasaran imunisasi.

Perawar komunitas harus bisa memecahkan masalah yang menjadi hambatan dan mengedukasi masyarakat sebanyak-banyaknya. Perawat juga membangun kemitraan, baik dengan inter profesi, misalnya dengan tenaga bidan, promosi kesehatan juga dengan lintas sektor dalam menggerakkan masyarakat, juga dengan Dinas PKO seperti kegiatan BIAN ini sudah ada SE Kemendikbud untuk sosialisasi ke sekolah.

Perawat komunitas berani keluar dari zona nyaman, bekerja sebagai rutinitas, tetapi mulai mengembangkan diri untuk melek teknologi informasi seperti adanya Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK). Aplikasi ini sangat membantu perawat menginput data imunisasi segera setelah pelayanan, sehingga mengurangi waktu untuk merekap, mencatat dan melaporkan secara manual.

Apalagi BIAN di Nusa Tenggara Timut (NTT) ini mendapatkan kesempatan pertama menjadi sasaran, diharapkan anak NTT mendapatkan kekebalan secara komunitas seperti halnya vaksinasi COVID-19 yang berhasil mencapai kekebalan komunitas, sehingga generasi penerus NTT di masa depan terbebas dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

Pemerintah telah berupaya menjaga kestabilan kesehatan dengan upaya preventif bagi masyarakat, khusunya bagi kelompok rentan bayi balita hingga usia anak. Imunisasi diberikan secara gratis agar kekebalan anak lengkap dengan booster MR, ditambah dengan nutrisi yang baik. Harapannya, anak NTT menjadi anak yang kuat, sehat, berprestasi sebagai penerus keluarga, masyarakat unggul, menjadi sebuah bangsa yang mampu bersaing di nasional maupun inetrnasional.

Oleh karena itu, perawat harus memberikan pelayanan keperawatan secara professional sesuai SOP dan bersikap caring, berpikir kritis, meningkatkan keterampilan dan kompetensi, mampu menggunakan teknologi informasi sehingga masyarakat yang dilayani mendapatkan kepuasan dan mendukung pemerintah menyehatkan dunia.

***

(Tulisan ini merupakan salah satu tulisan yang diikutkan dalam lomba menulis dalam rangka IND dan BIAN yang diselenggarakan DPW PPNI Provinsi NTT. Jika Anda suka dengan tulisan ini, silakan bagikan di media sosial Anda, karena salah satu penilaian diambil dari seberapa banyak tulisan ini dibaca orang. Selain itu, jika Anda tertarik ikut lomba menuli ini juga, klik informasinya di sini)