Kupang — Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia wilayah Nusa Tenggara Timur (HIPGABI NTT) menyelenggarakan kegiatan pelatihan kebencanaan bagi mahasiswa keperawatan STIKes Maranatha Kupang. Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 3 STIKes Maranatha ini diikuti oleh 30 mahasiswa keperawatan yang berasal dari semester 2 dan semester 4.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan mahasiswa keperawatan dalam menghadapi berbagai situasi kegawatdaruratan maupun bencana. Sebagai calon tenaga kesehatan, mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan teoritis, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat digunakan secara langsung ketika menghadapi situasi darurat di lapangan.
Kegiatan ini juga menjadi momentum penting dalam memperkenalkan kepada mahasiswa mengenai peran strategis perawat dalam sistem penanggulangan bencana. Dalam berbagai situasi bencana, tenaga kesehatan, khususnya perawat, sering kali menjadi garda terdepan dalam melakukan penilaian kondisi korban, memberikan pertolongan pertama, hingga membantu proses evakuasi dan stabilisasi korban sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan.
Dengan adanya pelatihan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan kompetensi penting yang perlu dimiliki oleh setiap tenaga kesehatan, terutama di wilayah yang memiliki potensi bencana.

Dukungan STIKes Maranatha dalam Penguatan Kompetensi Mahasiswa
Kegiatan pelatihan kebencanaan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua III STIKes Maranatha Kupang, Yosin H Pella. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif HIPGABI NTT dalam menyelenggarakan kegiatan yang memberikan pembekalan penting bagi mahasiswa keperawatan.
Ia menegaskan bahwa pelatihan semacam ini memiliki nilai strategis dalam meningkatkan kapasitas mahasiswa, terutama dalam menghadapi kondisi darurat yang membutuhkan respon cepat dan tepat dari tenaga kesehatan.
“Tolong mengikuti kegiatan pelatihan ini dengan serius dan sungguh-sungguh karena pelatihan rawan bencana ini tentang bagaimana meningkatkan kapasitas peserta saat terjadi kondisi gawat darurat atau bencana,” ujarnya di hadapan para peserta pelatihan.
Lebih lanjut, ia juga berharap kegiatan tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap pengembangan kompetensi mahasiswa, tidak hanya dari sisi pengetahuan tetapi juga keterampilan serta sikap profesional dalam menjalankan tugas sebagai tenaga kesehatan.
“Diharapkan peserta memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap profesional dalam menghadapi situasi kegawatdaruratan dan bencana,” tambahnya.
Menurutnya, kesiapan menghadapi bencana tidak dapat dibangun secara instan, melainkan perlu dilatih sejak masa pendidikan agar ketika terjun ke dunia kerja para tenaga kesehatan telah memiliki bekal kemampuan yang memadai.
HIPGABI NTT Tekankan Tanggung Jawab Profesi Perawat
Sementara itu, Ketua HIPGABI NTT, Dominggos Gonsalves, dalam sambutannya menekankan bahwa memilih profesi sebagai perawat berarti juga siap untuk terlibat dalam upaya penyelamatan nyawa manusia, khususnya dalam situasi kegawatdaruratan.
“Kita punya kewajiban ketika memilih perawat, memilih kesehatan maka pertolongan emergency ada di tangan kita,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam berbagai situasi darurat, tenaga kesehatan sering menjadi pihak yang pertama memberikan pertolongan kepada korban. Oleh karena itu, kemampuan untuk melakukan penilaian kondisi korban secara cepat, memberikan pertolongan awal, serta bekerja secara terkoordinasi menjadi keterampilan yang sangat penting untuk dimiliki oleh seorang perawat.
Selain itu, ia juga mendorong para peserta untuk aktif selama kegiatan pelatihan berlangsung dengan memanfaatkan kesempatan belajar secara maksimal. Menurutnya, para narasumber yang hadir merupakan tenaga profesional yang telah berpengalaman dalam memberikan pelatihan kegawatdaruratan dan kebencanaan.
“Narasumber sudah memberikan materi berulang kali, mereka kompeten, jadi tidak usah ragu untuk bertanya,” katanya.
Ia berharap kegiatan pelatihan tersebut dapat menjadi pengalaman belajar yang berharga bagi mahasiswa dalam memahami peran nyata tenaga kesehatan dalam situasi bencana.
Pembekalan Materi Triage Bencana hingga Teknik Balut dan Bidai
Selama kegiatan pelatihan, para peserta mendapatkan berbagai materi penting yang berkaitan dengan penanganan korban pada situasi bencana. Materi yang diberikan dirancang untuk memperkenalkan konsep dasar manajemen korban massal serta teknik pertolongan pertama yang sering dibutuhkan dalam kondisi darurat.
Salah satu materi utama yang diberikan adalah mengenai triage bencana, yaitu proses penilaian dan pengelompokan korban berdasarkan tingkat keparahan kondisi mereka. Melalui pemahaman tentang triage, tenaga kesehatan dapat menentukan prioritas penanganan korban sehingga sumber daya yang terbatas dapat digunakan secara efektif untuk menyelamatkan sebanyak mungkin korban.
Selain itu, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai teknik balut dan bidai yang digunakan dalam penanganan awal korban trauma. Teknik ini sangat penting untuk mencegah perburukan kondisi cedera sebelum korban mendapatkan penanganan lanjutan di fasilitas kesehatan.
Materi lainnya yang diberikan adalah mengenai prosedur evakuasi dan transportasi korban, termasuk teknik memindahkan korban secara aman dari lokasi kejadian menuju tempat yang lebih aman atau menuju fasilitas pelayanan kesehatan.
Melalui pembekalan materi tersebut, mahasiswa diharapkan dapat memahami langkah-langkah dasar yang harus dilakukan ketika menghadapi korban dalam situasi bencana maupun kecelakaan.
Praktik Keterampilan Melalui Skill Station
Tidak hanya menerima materi secara teori, kegiatan pelatihan ini juga dilengkapi dengan sesi skill station yang memungkinkan peserta mempraktikkan langsung keterampilan yang telah dipelajari. Pada sesi ini, mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok untuk berlatih melakukan berbagai teknik penanganan korban.
Dalam sesi praktik tersebut, peserta dilatih melakukan berbagai keterampilan dasar seperti teknik pembalutan luka, pemasangan bidai pada cedera tulang, hingga teknik pemindahan korban dengan metode yang aman bagi korban maupun penolong.
Para instruktur dari HIPGABI NTT memberikan pendampingan langsung kepada peserta selama proses latihan berlangsung. Pendekatan pembelajaran berbasis praktik ini diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami secara lebih mendalam bagaimana menerapkan teori yang telah dipelajari dalam situasi nyata.
Melalui sesi skill station ini, peserta juga dapat merasakan langsung tantangan yang mungkin dihadapi ketika memberikan pertolongan kepada korban di lapangan.
Simulasi Bencana Latih Respon Cepat Mahasiswa
Sebagai puncak dari rangkaian kegiatan pelatihan, para peserta mengikuti simulasi bencana yang dirancang menyerupai kondisi kejadian sebenarnya di lapangan. Simulasi ini menjadi sarana latihan bagi mahasiswa untuk menerapkan seluruh pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka pelajari selama pelatihan.
Dalam simulasi tersebut, mahasiswa dilatih untuk melakukan penilaian cepat terhadap kondisi korban, menentukan prioritas penanganan melalui proses triase, memberikan pertolongan awal, serta melakukan evakuasi korban secara sistematis dan terkoordinasi.
Simulasi ini juga bertujuan untuk melatih kemampuan kerja tim, komunikasi, serta pengambilan keputusan dalam situasi yang penuh tekanan. Kemampuan tersebut merupakan aspek penting dalam penanganan bencana yang sering kali berlangsung dalam kondisi terbatas dan membutuhkan respon yang cepat.
Melalui kegiatan pelatihan ini, HIPGABI NTT berharap mahasiswa keperawatan STIKes Maranatha Kupang dapat memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai penanganan kegawatdaruratan dan kebencanaan serta mampu berkontribusi secara aktif dalam upaya penyelamatan korban ketika terjadi bencana di masyarakat.
Penulis: Marikxen E. Lonakoni, S.Kep.,Ns (Sekretaris II DPW PPNI NTT)



