Home INFORMASI Dorong Cakupan Imunisasi di Alor, Ketua DPW PPNI NTT Tekankan Peran Strategis...

Dorong Cakupan Imunisasi di Alor, Ketua DPW PPNI NTT Tekankan Peran Strategis Ayah dalam Pengambilan Keputusan Kesehatan Anak

0
2
Dr. Aemilianus Mau, S.Kep.,Ns.,M.Kep akademisi Poltekkes Kemenkes Kupang yang juga menjabat sebagai Ketua DPW PPNI Provinsi NTT sedang memberi materi terkait pentingnya peran ayah dalam meningkatkan capaian imunisasi anak

Peningkatan cakupan imunisasi tidak semata-mata bergantung pada ketersediaan vaksin, tenaga kesehatan, atau kelengkapan sarana pelayanan. Tantangan yang lebih mendasar sering kali justru berada di ruang domestik keluarga sebagai tempat keputusan akhir diambil.

Kesadaran tersebut menjadi latar belakang penyelenggaraan kegiatan “Pertemuan Kampanye Ayah dalam Mendukung Peningkatan Capaian Imunisasi di Kabupaten Alor” yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Alor bekerja sama dengan Poltekkes Kemenkes Kupang dan Dinas Kesehatan Provinsi NTT. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Symphoni Kalabahi, Rabu (12/02/2026), menghadirkan unsur pemerintah daerah, tenaga kesehatan, TNI/Polri, tokoh agama, nelayan, media, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Salah satu narasumber utama dalam forum ini adalah Dr. Aemilianus Mau, S.Kep.,Ns.,M.Kep akademisi Poltekkes Kemenkes Kupang yang juga menjabat sebagai Ketua DPW PPNI Provinsi NTT. Kehadiran beliau tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi mempertegas peran strategis profesi perawat dalam advokasi kesehatan berbasis keluarga dan komunitas.

Foto bersama narasumber dan peserta kegiatan

Imunisasi dan Realitas Pengambilan Keputusan di Keluarga

Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Alor, Johana M. Baleare, SE., MM., yang menekankan bahwa imunisasi bukan hanya urusan ibu. Menurutnya, keputusan kesehatan anak kerap berada di tangan ayah dalam banyak keluarga, terutama di wilayah dengan kultur patriarki yang kuat. Jika ayah tidak memiliki pemahaman yang utuh, maka program imunisasi mudah terhambat.

Penyampaian materi disajikan dalam sesi panel yang dipandu Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Alor, Beny Wisang, SKM., MSc. Pada kesempatan itu, ada dua perspektif utama yang disajikan secara komplementer.

Maria F. Bukan, SKM., M.Kes., dari Dinkes Provinsi NTT memaparkan kebijakan imunisasi dalam kerangka kesetaraan gender dan capaian program. Ia menegaskan bahwa pendekatan teknis perlu diperkuat dengan pendekatan sosial.

Selanjutnya, Dr. Aemilianus Mau mengulas pendekatan perubahan perilaku melalui “Kampanye Ayah”. Ia menyoroti fakta bahwa dalam sistem sosial tertentu, suara ayah menjadi penentu akhir. Karena itu, edukasi yang hanya menyasar ibu tidak akan cukup. Kampanye harus diarahkan pada figur yang memiliki otoritas keputusan di rumah tangga.

Pendekatan ini menempatkan ayah bukan sebagai objek kritik, melainkan sebagai mitra strategis dalam perlindungan kesehatan anak.

Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Alor, Johana M. Baleare, SE., MM.

Diskusi Kontekstual: Antara Kekhawatiran Medis dan Dinamika Sosial

Forum berlangsung dinamis dan kritis. Peserta menyampaikan pertanyaan yang merefleksikan realitas lapangan di Alor.

Kekhawatiran terhadap demam pasca-imunisasi masih menjadi alasan klasik penundaan kunjungan ke Posyandu. Di sisi lain, muncul pertanyaan mengapa cakupan imunisasi tetap rendah meskipun tenaga kesehatan, logistik vaksin, dan sarana tersedia.

Isu budaya turut mengemuka, termasuk relasi kuasa dalam keluarga dan dampaknya terhadap pengambilan keputusan kesehatan. Beberapa peserta juga menekankan pentingnya pendekatan komunikasi lisan, mengingat karakter masyarakat NTT yang kuat dalam budaya tutur.

Masukan dari tokoh agama menegaskan agar kampanye tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi diwujudkan dalam gerakan nyata di tingkat komunitas.

Diskusi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan imunisasi bukan semata persoalan klinis, melainkan persoalan sosial, budaya, dan komunikasi publik.

Penandatanganan 11 poin Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan diimplementasikan secara kolaboratif di Kabupaten Alor

11 Poin Rencana Tindak Lanjut: Dari Wacana ke Aksi

Sebagai komitmen bersama, forum merumuskan 11 poin Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan diimplementasikan secara kolaboratif di Kabupaten Alor, yaitu:

  1. Kampanye “Ayah Alor Peduli, Anak Terlindungi” di 18 kecamatan.
  2. Talk show kerja sama Dinas Kesehatan dan RRI Alor tentang peran ayah dalam mendukung imunisasi.
  3. Pengemasan materi edukatif dalam bentuk poster kreatif dan video parodi mengenai dampak anak tidak ke Posyandu, dipublikasikan melalui media sosial TP PKK Kabupaten Alor.
  4. Kampanye Ayah pada momentum Car Free Day (CFD) bersama Dinas Kesehatan.
  5. Sosialisasi terpadu dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perangkat desa/lurah untuk mendorong partisipasi orang tua membawa anak ke Posyandu.
  6. Penyelenggaraan “Gebyar Ayah Tangguh”.
  7. Sosialisasi imunisasi secara berkelanjutan di masyarakat.
  8. Gerakan Kerja Imunisasi sebagai upaya percepatan peningkatan cakupan.
  9. Peningkatan insentif kader Posyandu.
  10. Peningkatan fasilitas Posyandu, khususnya gedung dan barang inventaris.
  11. Bimbingan teknis kader Posyandu untuk penguatan kapasitas pelayanan dan komunikasi.

Kesepakatan ini ditandatangani bersama sebagai bentuk komitmen lintas sektor. RTL tersebut menunjukkan bahwa kampanye tidak berhenti pada seremonial, melainkan diterjemahkan dalam langkah operasional yang menyentuh keluarga, kader, dan ruang publik secara simultan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here