
Kupang, 1 September 2026 — Gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores dalam beberapa waktu terakhir meninggalkan jejak kerusakan yang tidak hanya dirasakan masyarakat umum, tetapi juga para tenaga kesehatan yang justru dituntut tetap berada di garis depan pelayanan. Di tengah reruntuhan bangunan pelayanan kesehatan dan tenda-tenda darurat yang masih berdiri di sejumlah wilayah, tim perawat datang bukan sebagai relawan biasa, melainkan sebagai sesama profesi yang ingin memastikan rekan-rekan mereka baik-baik saja.
Selama lima hari, 28 Agustus hingga 1 September 2026, Tim Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Provinsi Nusa Tenggara Timur menyusuri wilayah-wilayah terdampak gempa bumi di Flores untuk menyalurkan donasi suplemen kesehatan dari PPNI se-Indonesia kepada para perawat yang tetap bertugas di garis depan pelayanan.
Tim yang beranggotakan Sekretaris DPW PPNI NTT Kori Limbong, Wakil Sekretaris Marikxen Eston Lonakoni, dan Wakil Bendahara Jumiati Boling ini menempuh jalur darat melintasi lima kabupaten: Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, hingga Manggarai — sebuah rute yang tidak pendek mengingat kondisi jalan dan infrastruktur di sejumlah titik turut terdampak gempa. Di setiap kabupaten, tim disambut dan didampingi langsung oleh ketua serta pengurus DPD PPNI setempat, sekaligus berdialog langsung dengan perawat yang bertugas di lapangan untuk mendengar kondisi dan kebutuhan mereka pascabencana.
“Sebagai organisasi profesi, tugas kami adalah untuk melihat langsung kondisi anggota yang tetap melayani di tengah kondisi bencana yang masih berlangsung,” ujar Kori Limbong menjelaskan alasan di balik kunjungan yang menembus medan pascabencana ini.
Kori Limbong menambahkan, respons PPNI NTT terhadap bencana ini sesungguhnya sudah dimulai sejak hari pertama pascagempa, jauh sebelum kunjungan langsung ini dilakukan. Saat itu, PPNI NTT segera menyebarkan formulir pendataan untuk memetakan anggota perawat yang rumahnya mengalami kerusakan akibat gempa, sebagai langkah awal memastikan bantuan dan penanganan lanjutan dapat tepat sasaran. Data awal itu, menurut Kori Limbong, menjadi dasar bagi organisasi untuk menentukan wilayah mana yang perlu mendapat perhatian dan kunjungan langsung terlebih dahulu.
Tidak hanya itu, sebelum tim turun langsung ke lapangan, PPNI Provinsi NTT juga telah lebih dulu mengirimkan sembilan orang perawat relawan untuk memperkuat pelayanan gawat darurat dan kritis di RSUD Aeramo, salah satu rumah sakit rujukan yang paling terdampak akibat gempa. Langkah ini diambil untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan di tengah keterbatasan tenaga dan fasilitas pascabencana, sekaligus meringankan beban kerja perawat setempat yang juga menjadi penyintas gempa.
Ende: Titik Awal Perjalanan Solidaritas
Perjalanan dimulai dari Kabupaten Ende, tempat tim disambut oleh Ketua PPNI Kabupaten Ende, Agustinus Nyoman Gudi, beserta pengurus. Tiga fasilitas kesehatan menjadi sasaran kunjungan pertama: RSUD Ende, Puskesmas Ndona, dan Puskesmas Kota Ende. RSUD Ende sendiri turut menjalankan sebagian pelayanan di luar gedung rumah sakit akibat dampak gempa, sebuah kondisi yang menuntut penyesuaian kerja ekstra dari para perawat yang bertugas di sana.
Di titik ini, donasi suplemen kesehatan mulai diserahkan sebagai bentuk dukungan awal bagi tenaga keperawatan yang terus menjalankan pelayanan meski dalam situasi tidak normal, sembari tim berbincang langsung dengan para perawat yang bertugas untuk mendengar kondisi mereka. Para perawat yang ditemui mengaku senang dengan kehadiran PPNI NTT, yang mereka rasakan sebagai suntikan moril di tengah kondisi yang masih sulit saat ini. Bagi mereka, kehadiran organisasi profesi bukan sekadar simbolis, melainkan pengingat bahwa perjuangan mereka di lapangan tidak luput dari perhatian.
Nagekeo, dari Pusat Gempa: Melayani dari Tenda Darurat
Perjalanan berlanjut ke Kabupaten Nagekeo, salah satu wilayah yang paling merasakan dampak langsung gempa. Di sinilah gambaran nyata krisis pascabencana paling terasa: RSUD Aeramo, rumah sakit rujukan daerah, terpaksa menjalankan pelayanan kesehatan dari tenda-tenda darurat karena bangunan utamanya dinyatakan tidak lagi layak digunakan. Suasana di lokasi ini menjadi salah satu potret paling menegaskan betapa beratnya situasi yang dihadapi tenaga kesehatan di Nagekeo, yang harus tetap melayani pasien di tengah keterbatasan fasilitas — dan di rumah sakit inilah sebelumnya sembilan perawat relawan kiriman PPNI Provinsi NTT telah lebih dulu diterjunkan untuk membantu pelayanan gawat darurat dan kritis.
Didampingi pengurus PPNI Kabupaten Nagekeo, tim diterima langsung oleh Direktur RSUD Aeramo dan Kepala Bidang Keperawatan, serta berdialog dengan perawat yang bertugas di tenda darurat tersebut. Ketua PPNI Kabupaten Nagekeo, Sumiyati Hasan, menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas kehadiran PPNI NTT di tengah situasi sulit ini.
“Teman-teman perawat sangat membutuhkan dukungan seperti ini dalam kondisi pemulihan pascabencana,” ungkap Sumiyati Hasan.
Setelah RSUD Aeramo, tim melanjutkan kunjungan ke Puskesmas Kota Nagekeo untuk menyerahkan donasi yang sama kepada tenaga perawat di fasilitas pelayanan primer, yang juga tidak luput dari beban kerja tambahan akibat lonjakan kebutuhan layanan kesehatan pascagempa.
Ngada: Menyusuri Ruang Rawat hingga Tenda Darurat Aimere
Dari Nagekeo, tim bergerak menuju Kabupaten Ngada, mengunjungi RSUD Bajawa dan Puskesmas Aimere. Di RSUD Bajawa, tim menyusuri beberapa ruangan perawatan untuk bertemu dan berdialog langsung dengan para perawat yang sedang bertugas, mendengar cerita mereka menjalani hari-hari kerja di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.
Sementara di Aimere, tim mendapati kondisi Puskesmas Aimere yang turut mengalami kerusakan akibat gempa, sehingga pelayanan kesehatan di sana juga terpaksa dilakukan di tenda darurat — kondisi yang menggambarkan bahwa dampak gempa tidak hanya menyasar fasilitas rujukan tingkat rumah sakit, tetapi juga layanan kesehatan primer di tingkat kecamatan.
Ketua PPNI Kabupaten Ngada, Siprianus Depa, yang menerima langsung kunjungan tersebut, mengapresiasi kesediaan tim meluangkan waktu dan meninggalkan keluarga demi hadir bersama perawat di daerah terdampak bencana. Menurutnya, kehadiran fisik pengurus provinsi di lapangan memiliki makna tersendiri, berbeda dengan bentuk dukungan yang hanya disampaikan dari jarak jauh.
Manggarai Timur: Trauma yang Tak Terlihat di Balik Reruntuhan
Kunjungan berlanjut ke Kabupaten Manggarai Timur, tepatnya ke wilayah Watunggong, dengan sasaran RS Pratama Watunggong dan Puskesmas Watunggong. Tim didampingi Ketua PPNI Kabupaten Manggarai Timur, Sofia Mistika Riwu, beserta Wakil Ketua Bidang Kesejahteraan, dan turut berdialog dengan perawat yang bertugas di kedua fasilitas tersebut.
Sofia Mistika Riwu menyampaikan bahwa dukungan psikologis menjadi salah satu hal yang sangat vital dalam proses pemulihan pascabencana seperti yang saat ini dihadapi wilayahnya. Menurutnya, pemulihan fisik fasilitas kesehatan memang penting, namun pemulihan kondisi mental dan emosional para perawat yang turut menjadi korban dampak gempa tidak boleh diabaikan.
Di Puskesmas Watunggong, tim juga disambut oleh Kepala Puskesmas, Kamilus A. Saleman, yang menyoroti sisi lain dari bencana yang kerap luput dari perhatian: dampak psikologis bagi tenaga kesehatan.
“Trauma mental itu paling nomor satu yang dirasakan oleh para anggota tenaga kesehatan,” ujar Kamilus A. Saleman.
Ia menuturkan, begitu gempa terjadi, hal pertama yang diperiksa jajarannya adalah kondisi rekan-rekan tenaga kesehatan sendiri. Meski secara fisik seluruh nakes dinyatakan aman, kerusakan parah pada bangunan fasilitas kesehatan menjadi momok tersendiri yang terus membayangi keseharian mereka dalam bekerja.
“Yang paling menakutkan adalah kondisi gedung yang rusak parah, dengan sendirinya kami sebagai tenaga kesehatan harus melayani, terus memberikan pelayanan meskipun rumah-rumah perawat juga banyak yang mengalami kerusakan,” tambah Kamilus A. Saleman. Ia menekankan bahwa di tengah keterbatasan itu, para perawat tidak memiliki pilihan selain terus bertahan dan melayani, meski secara pribadi mereka juga sedang menghadapi persoalan rumah tangga akibat gempa.
Manggarai: Titik Akhir Perjalanan
Setelah menyerahkan bantuan donasi di Manggarai Timur, tim melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Manggarai. Di Ruteng, tim disambut Ketua PPNI Kabupaten Manggarai, Lidwina Dewiyanti Wea, beserta pengurus, dan mengunjungi RSUD Ruteng, Puskesmas Kota, dan Puskesmas Lao, berdialog dengan perawat setempat, sekaligus menutup rangkaian kunjungan lima hari yang menembus lima kabupaten di Pulau Flores.
Di RSUD Ruteng, tim mendapati kondisi bangunan yang juga mengalami kerusakan berat, sehingga seluruh pelayanan untuk sementara dilakukan di tenda darurat. Fasilitas ini saat ini tengah bersiap untuk dipindahkan ke rumah sakit lapangan bantuan Kementerian Kesehatan, sebuah langkah yang diharapkan dapat sedikit meringankan beban kerja tenaga medis dan keperawatan di sana.
Dalam kunjungan ke Puskesmas Lao, Lidwina Dewiyanti Wea menjelaskan bahwa PPNI Kabupaten Manggarai, di tengah keterbatasan dana, turut berupaya membuka donasi bencana bagi anggotanya. Namun ia mengakui dana yang berhasil dihimpun tidak banyak, sehingga bantuan yang terkumpul langsung disalurkan ke lokasi-lokasi terdampak, yakni Reo, Reo Barat, dan RSUD Ruteng. “Dana yang terkumpul juga tidak banyak sehingga donasi yang disalurkan juga langsung ke lokasi terdampak,” ujar Dosen Keperawatan di Universitas Katolik Santo Paulus Ruteng tersebut. Ia berharap ke depan akan ada lebih banyak dukungan dari berbagai pihak, mengingat kebutuhan pemulihan di wilayah-wilayah tersebut masih jauh dari selesai.
Sikka dan Manggarai Barat: Bantuan Tetap Disalurkan Meski Tim Tak Bisa Hadir Langsung
Tidak seluruh wilayah terdampak dapat dijangkau langsung oleh tim dalam kunjungan lima hari ini. Kabupaten Sikka dan Manggarai Barat menjadi dua daerah yang luput dari kunjungan tatap muka, setelah kondisi cuaca menghalangi perjalanan tim, terutama akibat aktivitas erupsi Gunung Lewotobi di Sikka yang berdampak pada jarak pandang dan keselamatan jalur perjalanan. Meski demikian, donasi suplemen kesehatan bagi anggota perawat di kedua kabupaten tersebut tetap disalurkan, dengan mekanisme penyerahan melalui pengurus PPNI Kabupaten Sikka dan PPNI Kabupaten Manggarai Barat, agar bantuan tetap sampai kepada perawat yang membutuhkan meski tanpa kehadiran langsung tim provinsi.
Solidaritas Profesi di Tengah Pemulihan Rangkaian kunjungan selama lima hari ini menjadi bukti nyata solidaritas antarperawat se-Indonesia. Donasi suplemen kesehatan yang disalurkan, ditambah pendataan kerusakan rumah anggota yang telah berjalan sejak hari pertama pascagempa dan pengiriman perawat relawan ke RSUD Aeramo sejak awal masa tanggap darurat, merupakan bentuk kepedulian PPNI se-Indonesia kepada anggotanya yang berada di garis depan pelayanan kesehatan pascabencana, sekaligus penegasan bahwa organisasi profesi hadir bukan hanya secara struktural, tetapi juga menyentuh langsung kondisi anggotanya di lapangan — baik yang dapat dijangkau langsung, maupun yang harus dibantu melalui pengurus di daerah masing-masing.
Dari tenda darurat di Nagekeo, ruang-ruang rawat di Ngada, trauma yang masih membekas di Watunggong, hingga bangunan retak di Ruteng, setiap titik kunjungan menyingkap gambaran yang sama: perawat yang selama ini merawat, kini juga membutuhkan perhatian dan dukungan. Kehadiran Tim PPNI NTT sepanjang lima hari perjalanan ini membawa pesan sederhana namun bermakna, bahwa di tengah bencana, perawat yang merawat pun tetap butuh dirawat — baik secara materiil, maupun secara moril.
